{"id":10712,"date":"2022-11-08T09:54:01","date_gmt":"2022-11-08T02:54:01","guid":{"rendered":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/?p=10712"},"modified":"2022-11-08T18:32:59","modified_gmt":"2022-11-08T11:32:59","slug":"bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/","title":{"rendered":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center has-white-color has-text-color has-background wp-block-paragraph\" style=\"background-color:#ff0000;font-size:18px\"><strong>Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">BAHASA NUSANTARA KUNO ADALAH IBU DARI BAHASA SANSEKERTA DAN SANSEKERTA BUKAN DARI INDIA<br>**********************************************<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kajian tentang Ibu bahasa dunia akhirnya merujuk pada akar bahasa yang masih berguna di sebagian daerah di Indonesia Nusantara. Mari kita simak dengan membacanya hingga tuntas.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/s3.theasianparent.com\/cdn-cgi\/image\/height%3D250\/tap-assets-prod\/wp-content\/uploads\/sites\/24\/2021\/06\/tari-kabasaran-lead.jpg?w=715&#038;ssl=1\" alt=\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Bahasa &#8220;Sansekerta&#8221; adalah Bahasa Bangsa Nusantara, Indonesia maju terdahulu, bukan bahasa dan berasal dari &#8220;lndia&#8221; saat ini. Salah kaprah dan propaganda &#8220;Kolonialis&#8221;, telah menjadikan bangsa ini seolah hanya menjadi bangsa pengimpor &#8220;budaya&#8221; dan &#8220;bahasa&#8221; bangsa lain. Saat menjajah, negri ini ternamai &#8220;Hindia Belanda&#8221;. Hanya dengan satu huruf &#8220;H&#8221; hilang sempurnalah kata &#8220;India&#8221; itu menjadi anggapan sumber budaya dan Bahasa Bangsa Nusantara dan kita&nbsp;<a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/hashtag\/hanya?__eep__=6&amp;__tn__=*NK*F\">#HANYA<\/a>&nbsp;diam.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Perhatikan!<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Bahasa &#8220;Sansekerta&#8221; telah lama ada di Nusantara sejak ribuan tahun lalu di pergunakan leluhur kita. Literasi kata &#8220;bahasa&#8221; (bh\u0101\u1e63a) itu sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta berarti &#8220;satu petunjuk&#8221;. Ini asli bahasa kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian Bahasa Sansekerta oleh Bangsa Eropa mulainya oleh Heinrich Roth(1620\u20131668), Johann Ernst Hanxleden(1681\u20131731).<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/portal.riau24.com\/news\/20220826\/riau24_1661480506.jpg?w=715\" alt=\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sir William Jones pernah berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">\u201cBahasa Sansekerta, tetap dengan kekunaannya, memiliki struktur yang menakjubkan. Lebih sempurna dari pada Bahasa Yunani, lebih luas dari pada Bahasa Latin, lebih halus dan berbudaya dari pada keduanya. Namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya. Baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan. Sangat eratlah keterkaitan, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Perhatikan lagi!<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">&#8220;Muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada.&#8221;, kata- terakhir William Jones ini membuktikan sumber &#8220;Sansekerta&#8221; itu bukan berada di tempat ia berceramah saat itu, yaitu India.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam Bahasa Indonesia saat ini ada sekitar 800 kata-kata dari Bahasa Sansekerta. Antara lain; cinta (cint\u0101), agama (\u0101gama), antariksa (antarik\u1e63a), (arc\u0101) patung, bahaya (bhaya), bejana (bh\u0101jana), bidadari (vidy\u0101dhar\u012b), buddha (buddha &#8211; pencerahan), dan sebagainya.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/3.bp.blogspot.com\/-QYnHYRawjFI\/V9S_vpeEm9I\/AAAAAAAAEBg\/WodVsyPSIrU_mJiSyl9jP3WPPkS_ckvuACEw\/s400\/cantindo_2.jpg?w=715&#038;ssl=1\" alt=\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kata-kata ini ada yang terserap langsung dari bahasa aslinya. Ada juga yang terserap dari Bahasa Jawa terpakai sebagai pembentukan kata-kata baru sebutannya &#8220;Neologisme&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ing bausastran\u00e9 Jawa Kuna kurang dari 50% dari itu, bauwarnan\u00e9, asal\u00e9 saka Basa Sangskreta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Catatan &#8220;mainstream&#8221; saat ini tentang Sansekerta yang terpublikasi adalah &#8220;Panini&#8221;, kemudian Deva Nagari, Bahasa Brahmin lebih tua lagi &#8220;Aramik&#8221;. Itulah sumber Sansekerta. Benarkah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25cf P\u0101\u1e47ini, orang Pakistan pertama kali menulis tentang tata Bahasa Sansekerta yang berjudul A\u1e63\u1e6d\u0101dhy\u0101y\u012b. Buku Tata Bahasa Sansekerta karyanya ini memuat 3.959 Hukum Bahasa Sansekerta tertulis abad ke-5 SM.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25cf Aksara Deva N\u0101gar\u012b\/dari Bahasa Sansekerta &#8220;Kota Dewa&#8221;. Aksara ini muncul dari aksara &#8220;Brahmi&#8221; dan mulai penggunaan pada abad ke-11.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25cf Aksara Brahmi, Aksara ini tertulis dari kiri ke kanan. Menurut hipotesis aksara ini berdasarkan huruf &#8220;Aramea&#8221; penggunaan oleh Raja Asoka 270 SM &#8211; 232 SM.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25cf Abjad\/Bahasa Aramaik adalah yang terpakai masyarakat Aram, yang tinggal di daerah sekitar Mesopotamia\/Siria, sekitar abad ke-10 SM. Kekaisaran Akhemenid 331 SM, Aram Kuno 500 SM, berubah menjadi Aram Imperial\/bahasa kekaisaran.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"has-text-align-justify wp-block-heading\">Perhatikan!<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Semua anggapan sumber abjad\/bahasa paling tua adalah tahun 500 SM. Sementara di Nusantara jauh sebelum tahun itu telah berdiri tempat belajar ilmu pengetahuan, setingkat pusat universitas di antaranya ilmu Bahasa &#8220;Sansekerta&#8221;. Tempat belajar setingkat pusat universitas bernama &#8220;Dharma Phala&#8221; di Svarna Dvipa terbangun sebelum &#8220;Nalanda&#8221; di Bihar India tahun 427 M.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Tokoh Dharma Phala 670-580 SM lahir di Svarna Dvipa adalah murid Dharmadasa, guru Dharmakirti dan guru-guru lainnya pelopor ajaran &#8220;Dharma\/Dhamma&#8221; di tanah india.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Jadi, Bahasa &#8220;Sansekerta&#8221; adalah bahasa asli Nusantara. Pembelajaran dan pemakaian oleh leluhur kita menyebar ke 3\/4 muka bumi. Bersamaan dengan penyebaran falsafah ajaran &#8220;Dharma\/Dhamma&#8221;, yang mendasari tumbuhnya 3 Agama besar di India.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"has-text-align-justify wp-block-heading\">Kitalah yang mewarnai India, dan&nbsp;<a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/hashtag\/bukan?__eep__=6&amp;__tn__=*NK*F\">#BUKAN<\/a>&nbsp;sebaliknya. Tertandai dengan Bahasa &#8220;Sansekerta&#8221; dan falsafah dasar utama &#8220;Dharma\/Dhamma&#8221;.<\/h3>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/jengsusan.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Budaya-Belis-NTT.jpg?w=715&#038;ssl=1\" alt=\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sementara kajian lainnya menyebut, bahwa Sansekerta adalah bahasa turunan dari Bahasa Nusantara Kuno yang terjadi karena perkembangan budaya di Indonesia Nusantara Kuno masa itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Shyama Rao (1999) menulis buku elektronik berjudul \u201cThe Anti-Sanskrit Scripture\u201d. Dan terpajang di perpustakaan Maya Ambedkar \u2013 yang sekarang sudah tutup. Rao mengkritisi anggapan akademis bahwa Bahasa Sansekerta adalah induk semua bahasa di Asia Selatan bahkan sampai Eropa Barat. Demikian juga aksara Deva Nagari yang diakukan berasal dari negeri para dewa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Rao menjelaskan banyak kelemahan Bahasa Sansekerta dan aksara Deva Nagari. Bahasa Sansekerta yang sejak jaman kuno terpropagandakan oleh Bangsa Aryan sebagai bahasa suci dan bahasa dewata serta induk bahasa-bahasa di Hindustan, Bahasa Persia, Inggris dan Jerman itu mengandung kerumitan tata bahasa dan memiliki terlalu banyak karakter (alphabets). Rao membuat daftar perbandingan jumlah karakter bahasa-bahasa primitif (Sansekerta tergolong primitif), sebagai berikut :<br>Cina-Ming 40,545<br>Cina-Sung 26,194,<br>Lalu Cina-Han 9,353,<br>Sumeria 1,200,<br>Sansekerta 509, dan<br>Heroglif Mesir 70 karakter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Memang jauh lebih banyak jumlah karakter Cina atau Sumeria. Namun di bahasa-bahasa itu setiap karakter mewakili satu makna grammatical suatu kata atau morpheme. Sedang dalam Bahasa Sansekerta, satu aksara Deva Nagari hanya melambangkan bunyi, cara baca, perubahan bentuk kata dan lain-lain aturan grammatical yang sangat rumit. Agak mirip dengan huruf-huruf Timur-Tengah seperti Hibrani dan Arab tetapi jauh lebih rumit. Belum lagi tata bahasanya yang tidak konsisten sebagai kelompok bahasa daratan Asia Selatan ke Barat. Bahasa Sansekerta tidak membedakan jenis kelamin, tidak mengenal \u201ctenses\u201d, tidak ada konsep \u201ctunggal dan jamak\u201d, serta tidak ada partikel. Tetapi banyak sinonim dan homonim yang mirip dengan kelompok Bahasa Nusantara. Anehnya kosa-kata Bahasa Sansekreta banyak yang mirip bahasa-bahasa Asia Selatan, Asia Barat hingga Eropa Barat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"has-text-align-justify wp-block-heading\">Kesimpulannya, Bahasa Sansekerta dan aksara Deva Nagari adalah \u201crakitan\u201d dari berbagai bahasa.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Itu terakit dengan mencampur atau mencomoti kosa kata dan cara tulis berbagai bahasa yang ada di Daratan Hindustan. Tambahan dengan bahasa-bahasa pendatang dengan logat Bangsa Aryan. Ini juga terbuktikan bahwa penutur aktif Bahasa Sansekerta pada tahun 1921 tinggal sekitar 356 orang di seluruh India, Pakistan dan Bangladesh (sekarang). Dan pada sensus tahun 1951 hanya ada 555 orang penutur Sansekreta dari 362 juta penduduk India.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Indonesia justru mengandung sekitar 50% kosa kata Sansekerta. Jangan-jangan justru orang Aryan mencomot sebagian bahasanya dari Bahasa Nusantara sebagai bagian bahasa rakitannya. Karena secara praktis, justru penutur Sansekreta itu jauh lebih banyak di Nusantara berbanding penutur di India. Terutama orang Aryan sendiri justru memakai Bahasa Hindi. Bukti paling telak adalah bahwa belum ada temuan satu pun naskah kuno berbahasa Sansekerta dengan aksara Deva Nagari di India sebelum tahun 500 Masehi!<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/thumb.viva.co.id\/media\/frontend\/thumbs3\/2021\/01\/03\/5ff1a08f67abb-10-pesona-kecantikan-wanita-bali-luar-biasa-buat-jatuh-cinta_1265_711.jpg?w=715&#038;ssl=1\" alt=\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Bahasa yang dalam anggapan dan terpropagandakan sebagai bahasa dewata, terbukti sebagai bahasa rakitan minoritas \u201cpenguasa\u201d Hindustan. Sayangnya, propaganda Sansekerta sebagai induk bahasa-bahasa terlanjur mendarah daging bersamaan dengan banjir bandang imperialisme dan kolonialisme sebagai sumber anthropologi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Teori Sansekerta Induk Bahasa (TSIB) terlanjur bercokol di memori intelektual sejarah, lingusistik dan sosial. Bahkan meracuni sejumlah ahli komputer hingga pernah ada pendapat \u201cBahasa Sansekerta paling afdol untuk program komputer, karena mewakili banyak bahasa besar di dunia\u201d. Tanpa mempertimbangkan kerumitan penulisan penggunaan dan ketidakkonsistenan tata bahasanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"has-text-align-justify wp-block-heading\">Justru bahasa komputer yang melanglang jaringan \u201cartificial intelligent\u201d bernama \u201cJava Script\u201d yang konon karena \u201cfleksibelnya\u201d The Javanese.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Seorang agronomist dari Haryana University, Profesor Ashok Kumar, sangat heran dengan Bahasa Indonesia. Pertama dia heran sewaktu ada pemberitahuan bahwa \u201clanguage\u201d itu \u201cbahasa\u201d. Dia heran, karena di Bahasa Hindi dan Bengali, \u201clanguage\u201d adalah \u201cbhasa\u201d. Dan Dia lebih heran lagi ketika dalam Bahasa Jawa berbunyi \u201cboso\u201d. Dia bingung, dari mana istilah \u201cbhasa, boso, dan bahasa\u201d itu berasal? Dia sebagai orang Hindu justru tidak merujuk Sansekerta, malah menduga dari Bahasa Arab atau Urdu. Jika istilah \u201cbhasa\u201d itu, kalau benar-benar dari Sansekerta, mestinya di Persia, Jerman, Inggris, Latin, Yunani, juga mirip, paling tidak, ada konsonan \u201cbhs\u201d. Tetapi kok jadi \u201clingua\u201d?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Keheranan Profesor Kumar kedua adalah tentang jumlah bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah ratusan, tetapi memiliki satu Bahasa Indonesia yang dapat diterima oleh hampir semua orang Indonesia. Karena antara Bahasa Jawa, Sunda dan Bali itu banyak mengandung kosa kata Kawi. Sedang hampir 80% kosa kata Bahasa Melayu asli punya akar kata Kawi. Kenyataan itu sangat berbeda dengan negerinya, India. Negerinya punya keragaman ekologi dan ekosistem yang spektakuler. Mulai dari yang bersalju abadi (Himalaya), sampai yang bergurun (Deccan dan Punjab). Dari yang daratan utuh (Hindustan) hingga kepulauan (Andaman). Maka Profesor Kumar berkhayal, seandainya India memiliki bahasa nasional yang bisa diterima oleh seluruh bangsa seperti Bahasa Indonesia, betapa kuat negaranya! Tetapi dia justru heran kepada Indonesia yang tidak maju-maju. \u201cWhat\u2019s wrong with the Indonesian?\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"has-text-align-justify wp-block-heading\">Ternyata dari Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia masih merupakan pengikat paling kuat persatuan dan kesatuan Indonesia . Bahasa konon merupakan salah satu ekspresi kebudayaan bangsa penuturnya.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sebuah artikel di majalah ilmiah populer HortScience menyebut tentang asal-usul tanaman \u201ctales-talesan\u201d yang ada di Oceania, Polynesia hingga Hawaii. Lalu menyebar ke Jepang, Cina dan Korea. Dugaan dulu-dulunya terbawa oleh penjelajah lautan kuno dari Nusantara sebagai \u201cbekal\u201d bahan makanan. Dan dugaan itu lebih ketika ada siaran NHK (TV Jepang) akhir tahun 2003 yang secara kebetulan membahas kebudayaan Bangsa Hawaii. Di siaran itu ada tarian tradisional yang terucapkan oleh pembawa acara sebagai \u201ckokonatsu no odori\u201d (tarian pohon kelapa) yang tulisan Bahasa Hawaiinya ada kata \u201ckalappa\u201d. Nusantara telah punya bahasa yang satu, berarti budayanya juga satu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Jadi, bahasa manakah yang bahasa induk? Sansekerta atau bahasa-bahasa Nusantara yang terwakili oleh Bahasa Indonesia? Sayangnya bahwa dalam sejarah penyebaran manusia, Bangsa Nusantara terlanjur dianggap sebagai pendatang dari Indo-Cina. Meskipun pada sejumlah literasi tidak ditemukan sama sekali kosa kata Indonesia atau Jawa yang mirip dengan kosa kata Khmer atau Burma. Yang ada justru dulu raja-raja Kamboja memakai nama akhir Warman dan kebetulan pula salah seorang bangsawan dari daerah Pamalayu di Majapahit bernama Adityawarman. Sementara nama raja Kamboja sekarang justru Norodom Sihanouk yang sama sekali tidak mirip dengan satu pun kata Melayu, Jawa, Sunda dan Bali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/hashtag\/sayaindonesianusantara?__eep__=6&amp;__tn__=*NK*F\">#SayaIndonesiaSayaNusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga semua mahluk selamat dan bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Merdeka Kebudayaan Nusantara!!!<br>Satyam Eva Jayate!!!<br>Eling lan waspada<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara!<br>Rahayu mulya ning jagat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Desain website oleh <a href=\"https:\/\/klubcahaya.tech\/\">Cahaya TechDev<\/a> \u2013 <a href=\"https:\/\/klubcahaya.com\/\">Klub Cahaya<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta BAHASA NUSANTARA KUNO ADALAH IBU DARI BAHASA SANSEKERTA DAN SANSEKERTA BUKAN DARI INDIA********************************************** Kajian tentang Ibu bahasa dunia<\/p>\n","protected":false},"author":10140,"featured_media":4522,"comment_status":"open","ping_status":"close","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_eb_attr":"","_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[506,1,89,543],"tags":[],"class_list":["post-10712","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ajar-pikukuh-budaya-nusantara","category-artikel-atau-berita-baru","category-dalam-negeri","category-opini-goresan-digital"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta - Cahaya Journal<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara! Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Desain website oleh Cahaya TechDev \u2013 Klub Cahaya\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta - Cahaya Journal\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara! Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Desain website oleh Cahaya TechDev \u2013 Klub Cahaya\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Cahaya Journal\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/web.facebook.com\/klubcahaya.cci\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-11-08T02:54:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-11-08T11:32:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1880\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1251\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"RM Kentus\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@CahayaKlub\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@CahayaKlub\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"RM Kentus\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"RM Kentus\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8e9367a638de8dfa0923310ce092aab9\"},\"headline\":\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\",\"datePublished\":\"2022-11-08T02:54:01+00:00\",\"dateModified\":\"2022-11-08T11:32:59+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/\"},\"wordCount\":1588,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/7\\\/2022\\\/07\\\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1\",\"articleSection\":[\"Ajar Pikukuh &amp; Budaya Nusantara\",\"Artikel Atau Berita Baru\",\"Dalam Negeri\",\"Opini &amp; Goresan Digital\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/\",\"name\":\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta - Cahaya Journal\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/7\\\/2022\\\/07\\\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1\",\"datePublished\":\"2022-11-08T02:54:01+00:00\",\"dateModified\":\"2022-11-08T11:32:59+00:00\",\"description\":\"Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara! Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Desain website oleh Cahaya TechDev \u2013 Klub Cahaya\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/7\\\/2022\\\/07\\\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/7\\\/2022\\\/07\\\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1\",\"width\":1880,\"height\":1251,\"caption\":\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Krisis Identitas Bangsa Pulih Hanya Oleh Jati Diri Penghayat Kepercayaan Distigma Sesat\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/\",\"name\":\"Cahaya Journal\",\"description\":\"Biar Karya Bicara\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#organization\",\"name\":\"PT. Cemerlang Cahaya Internasional\",\"url\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/7\\\/2022\\\/09\\\/cahayajournal1.png?fit=1000%2C1000&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/7\\\/2022\\\/09\\\/cahayajournal1.png?fit=1000%2C1000&ssl=1\",\"width\":1000,\"height\":1000,\"caption\":\"PT. Cemerlang Cahaya Internasional\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/web.facebook.com\\\/klubcahaya.cci\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/CahayaKlub\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/klub.cahaya_ptcci\\\/\",\"https:\\\/\\\/id.pinterest.com\\\/infoptcci\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UCkiaevo2B9DetW6kuT-Zl9A\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8e9367a638de8dfa0923310ce092aab9\",\"name\":\"RM Kentus\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/peepso-7\\\/users\\\/10140\\\/91f7103a4a-avatar-full.jpg\",\"url\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/peepso-7\\\/users\\\/10140\\\/91f7103a4a-avatar-full.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/wp-content\\\/peepso-7\\\/users\\\/10140\\\/91f7103a4a-avatar-full.jpg\",\"caption\":\"RM Kentus\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/klubcahaya.com\\\/sosial\\\/user-profile-page\\\/?purwono-wahyudi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta - Cahaya Journal","description":"Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara! Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Desain website oleh Cahaya TechDev \u2013 Klub Cahaya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta - Cahaya Journal","og_description":"Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara! Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Desain website oleh Cahaya TechDev \u2013 Klub Cahaya","og_url":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/","og_site_name":"Cahaya Journal","article_publisher":"https:\/\/web.facebook.com\/klubcahaya.cci","article_published_time":"2022-11-08T02:54:01+00:00","article_modified_time":"2022-11-08T11:32:59+00:00","og_image":[{"width":1880,"height":1251,"url":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1","type":"image\/jpeg"}],"author":"RM Kentus","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@CahayaKlub","twitter_site":"@CahayaKlub","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"RM Kentus","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/"},"author":{"name":"RM Kentus","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#\/schema\/person\/8e9367a638de8dfa0923310ce092aab9"},"headline":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta","datePublished":"2022-11-08T02:54:01+00:00","dateModified":"2022-11-08T11:32:59+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/"},"wordCount":1588,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1","articleSection":["Ajar Pikukuh &amp; Budaya Nusantara","Artikel Atau Berita Baru","Dalam Negeri","Opini &amp; Goresan Digital"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/","url":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/","name":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta - Cahaya Journal","isPartOf":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1","datePublished":"2022-11-08T02:54:01+00:00","dateModified":"2022-11-08T11:32:59+00:00","description":"Mari kembalikan kejayaan negeri Nusantara! Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Desain website oleh Cahaya TechDev \u2013 Klub Cahaya","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#primaryimage","url":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1","width":1880,"height":1251,"caption":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta Krisis Identitas Bangsa Pulih Hanya Oleh Jati Diri Penghayat Kepercayaan Distigma Sesat"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/bahasa-nusantara-kuno-adalah-induk-sansekerta\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bahasa Nusantara Kuno Adalah Induk Sansekerta"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#website","url":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/","name":"Cahaya Journal","description":"Biar Karya Bicara","publisher":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#organization","name":"PT. Cemerlang Cahaya Internasional","url":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/09\/cahayajournal1.png?fit=1000%2C1000&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/09\/cahayajournal1.png?fit=1000%2C1000&ssl=1","width":1000,"height":1000,"caption":"PT. Cemerlang Cahaya Internasional"},"image":{"@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/web.facebook.com\/klubcahaya.cci","https:\/\/x.com\/CahayaKlub","https:\/\/www.instagram.com\/klub.cahaya_ptcci\/","https:\/\/id.pinterest.com\/infoptcci\/","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCkiaevo2B9DetW6kuT-Zl9A"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/#\/schema\/person\/8e9367a638de8dfa0923310ce092aab9","name":"RM Kentus","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/peepso-7\/users\/10140\/91f7103a4a-avatar-full.jpg","url":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/peepso-7\/users\/10140\/91f7103a4a-avatar-full.jpg","contentUrl":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/peepso-7\/users\/10140\/91f7103a4a-avatar-full.jpg","caption":"RM Kentus"},"url":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/user-profile-page\/?purwono-wahyudi\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-content\/uploads\/sites\/7\/2022\/07\/pexels-photo-12400526.jpeg?fit=1880%2C1251&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pdV0cK-2MM","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10140"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10712"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10712\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/klubcahaya.com\/sosial\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}