“Kadangan Gongso” Omah Cangkem Mataraman.

Melihat Dengan Pendengaran, Berpikir Dengan Rasa Dalam “Kadangan Gongso” Omah Cangkem Mataraman.

Omah Cangkem Mataraman (OCM) sekali lagi menggelar sebuah pentas karya seni yang mampu menyentuh ruang kesadaran terdalam. Terkemas dalam seni karawitan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat seni budaya. Pardiman Djoyonegoro, bersama seluruh keluarga besar OCM mempersembahkan karya “Kadangan Gongso”, Selasa, 3 Januari 2023, di Pelataran Omah Cangkem, Yogyakarta.

“Kadangan Gongso” Omah Cangkem

“Kadangan Gongso”  merupakan sebuah ruang persembahan dari Omah Cangkem (OCM) Pardiman Djoyonegoro untuk mengiringi pergantian tahun, sebagai perwujudan rasa terima kasih dan harapan kebaikan pada Sang Gusti (Tuhan dalam sebutan orang Jawa) dan Alam semesta.

Berlatar belakang refleksi terhadap kondisi kekinian yang segala sesuatunya hanya berkutat di wilayah kulit, tampilan luar, casing dan gemerlap visual semata, tanpa mampu melihat makna sejati dan spirit yang lebih dalam, pagelaran “Kadangan Gongso” bermaksud kembali mendudukan seni dan kesenian Jawa, (khususnya karawitan) sebagai refleksi dari kondisi tersebut dengan mengutamakan penyikapan bijak serta aplikatif.

“Kadangan Gongso” Omah Cangkem

Istirahat Sejenak Dari Gemerlap Visual

“Kadangan Gongso” menjadi upaya untuk mengistirahatkan sejenak hal-hal visual yang gemerlapnya amat menyilaukan. Yang selama beberapa waktu belakangan begitu mendominasi dan menyamarkan hal-hal yang sejati dalam kehidupan manusia modern. Bahkan secara sadar maupun tidak, manusia jaman ini menyediakan dirinya untuk menjadi jajahan hal-hal tersebut. Banyak yang kehilangan “kesadaran” terhadap makna hidup sejati. Kita hanya berkecimpung di bagian kulit, tanpa paham isi.

  

Maka dalam “Kadangan Gongso” ini kemudian mengusung filosofi “Ndeleng Nganggo Pangrungu” atau melihat dengan pendengaran. Dengan harapan, hal-hal yang selama ini tersembunyikan oleh tipuan visual dan kulitan dapat termaknai dan terpahami dengan lebih jernih. Sehingga menghasilkan kewaskithaan dan penglihatan tajam terhadap kesejatian hidup.

Selanjutnya ketika penglihatan telah jernih, maka kemudian terungkap lewat “Mikir Nganggo Pangroso” atau berpikir menggunakan rasa. Meresapi dan juga mengambil intisari kebaikannya lewat rasa. Rasa adalah perangkat cerdas yang tersematkan dalam diri setiap manusia. Begitu jujur dan tajam mendeteksi dan memaknai setiap objek, tetapi seringkali tertutup dan kurang berfungsi karena manusia lebih mengedepankan ego dan logika semata.

Ketajaman rasa atau intuisi bisa terasah dengan baik salah satunya dengan mempelajari seni. Seni mengutamakan keindahan atau estetika, yang hanya bisa terdeteksi oleh kelembutan rasa. Rasa yang semakin lembut akan semakin tajam, sehingga bisa menjadi perangkat cerdas untuk melihat makna kehidupan yang tersembunyi di balik visual dan kulit

“Kadangan Gongso” Omah Cangkem

Pada akhirnya “Kadangan Gongso” adalah sebentuk upaya pengambilalihan hak pribadi untuk berkomunikasi dengan Sang Gusti, secara langsung tanpa makelar ataupun perantara, lewat bahasa yang paling sulit untuk memahaminya dan paling sulit untuk mendefinisikannya, yaitu “Rasa”

“Kadangan Gongso” Omah Cangkem Mataraman

Desain website oleh Cahaya TechDevKlub Cahaya

Nunik Cho

I'm nothing, but everything

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan