Realitas Politik Di Indonesia
Orang mendukung karena citra yang terbentuk di kepalanya. Orang itu termasuk kamu. Ya kamu!

Mengapa Nasdem mendeklarasikan AB sebagai calon presiden? Jawabannya akan panjang. Tapi kenapa dideklarasikan kemarin? Itu jawabannya pendek saja. Surya Paloh ingin menyelamatkan AB dari kriminalisasi oleh Ketua KPK, Firli Bahuri.
Firli berupaya menjadikan AB sebagai tersangka dalam urusan Formula E. Para penyidik KPK sebenarnya tidak menemukan bukti tindak pidana korupsi. Karena itu tak ada yang mau mengambil tanggung jawab untuk meluluskan kehendak Firli itu.
Langkah Surya Paloh mendeklarasikan AB menutup ruang gerak Firli. Menurut UU, seorang calon presiden tidak boleh dijadikan tersangka. Soal ini sebenarnya masih abu-abu. Yang tidak boleh disidik adalah orang yang sudah terdaftar secara resmi di KPU. Tapi setidaknya Firli jadi berpikir ulang. Kemarin KPK resmi mengumumkan bahwa dari hasil gelar perkara, tidak ada bukti permulaan yang cukup untuk menjadikan AB tersangka.
Realitas Politik Di Indonesia
AB. Para pengkritiknya menyebut dia sebagai gubernur “ayat dan mayat”. Itu untuk menggambarkan kasarnya metode yang dipakai tim AB saat pemilihan Gubernur DKI tahun 2017. AB menggunakan jargon-jargon agama yang sangat kasar.
Tapi lihatlah sisi sebaliknya, yang dilakukan Firli tadi. Ia menggunakan lembaga negara untuk menjegal AB. Hingga Independensi KPK terjun ke titik nadir.
Tapi Firli kan bukan politikus? Ya, dalam pengertian dia bukan orang partai. Tapi sangat jelas bagaimana posisi politik Firli itu, kalau kita ingat fakta bahwa Harun Masiku masih belum juga tertangkap. Ringkasnya, Firli sedang menjalankan agenda politik lawan AB. Artinya, kedua pihak menjalankan politik yang sama kotornya.
Kenapa AB hendak dijegal? Nah, ini jawabannya sama dengan jawaban atas pertanyaan kenapa Nasdem menjadikan AB sebagai calon presiden. Jawabannya sederhana : AB itu kuat, pendukungnya banyak.
Tapi kan dia tidak bisa kerja? Tapi kan dia tidak punya prestasi? Aduh, Dek. Jangan culun kali. Pendukung dan pemlih tidak melihat kinerja dan prestasi. Mereka melihat citra.
Itu berlaku untuk semua, bukan hanya AB. Apa prestasi Prabowo sehingga ia mendapat dukungan demikian besar di 2 pilpres? Tidak ada. Sama saja, apa prestasi Ganjar? Tak jelas juga.
Pencitraan Membentuk Dukungan
Orang mendukung karena citra yang terbentuk di kepalanya. Orang itu termasuk kamu. Ya kamu! Sosok politikus ideal yang ada di benakmu itu adalah citra yang berhasil tim pencitraan politikus tersebut bentuk.
AB itu kuat. Itu realitas politik. Di kubu “Islam politik”, yaitu orang-orang yang menginginkan negara ini mereka kelola dengan aturan Islam, AB itu nomor satu. Kekuatan massa kelompok itu, kalau kita buat taksiran sederhana, bisa mencapai 35-45% dari jumlah pemilih. AB tidak punya saingan di situ. Saingan terdekatnya, Ridwan Kamil, bisa masuk kotak, karena partainya sendiri, yaitu Nasdem, mendukung AB.
Kubu sebelah, yaitu kubu nasionalis, masih terpecah oleh sosok Ganjar, Prabowo, dan Puan.
Paham? Itu realitas politik. Surya Paloh telah menanam budi yang sangat besar untuk AB. Ia akan meraih 2 keuntungan penting. Pertama, ia bisa menggarap pemilih dari kalangan Islam politik, yang selama ini agak jauh dari Nasdem. Kedua, apapun hasil pemilihan legislatif, Nasdem akan jadi partai yang sangat penting dalam koalisi pendukung AB.
Begitulah dunia politik. Ada hubungan timbal balik antara sikap politikus dengan realitas politik. Tindakan politikus mempengaruhi dan membentuk realitas politik. Pada saat yang sama, politikus harus bertindak merespon realitas politik.
Kubu lawan AB harus bertindak merespon kenyataan bahwa AB itu kuat. Hasil survei internal mereka pun memaparkan hal yang sama. Maka, cara kotor seperti yang melalui Firli itu pun Ia lakukan.
Harapan Besar Untuk Kubu Islam
Sama halnya dengah AB. Dalam pemilihan Gubernur DKI. Ia berhadapan dengan realitas bahwa kalau ia tidak merangkul kubu Islam, maka tak ada harapan baginya. Tidak masuk ke situ, sama saja dengan mengundurkan diri dari kancah kompetisi.
Setelah sekian tahun pilkada berlalu, saya berbincang dengan kawan lama, anggota tim AB. “Jangankan kamu, San. Di internal kami saja banyak yang ngamuk ketika AB pertama kali berkunjung ke RS,” kata dia. Itu sesuatu yang bisa saya maklumi.
Akhirnya, saya harus menekankan lagi soal realitas politik ini. Kenyataannya, 70% hingga 80% pemilih kita tidak memilih berdasarkan program kerja. Mereka tidak menuntut kinerja. Sadari itu. Mereka memilih berbasis citra yang terbentuk di otak mereka. Kalau Anda gregetan kenapa sosok yang tak masuk akal bisa dapat dukungan politik, jawabannya kembali ke situ lagi yaitu realitas politik.
Berhadapan dengan realitas itu, para politikus tidak perlu hingga repot-repot membuat program canggih. Mereka memilih untuk repot mencari cukong yang bisa menyediakan dana untuk pencitraan.
Ganjar, AB, Prabowo. Siapa pun pilihan Anda, sadarilah bahwa mereka politikus belaka.
Realitas Politik Di Indonesia
Desain website oleh Cahaya TechDev – Klub Cahaya
Dukungan & komentar!
Komentar