Sejarah Penjara Cipinang
Oleh: Bung Gan
Tempat ini merupakan rutan yang paling banyak penghuni pada masa kolonial Belanda. Lapas Cipinang berada di wilayah yang dulu terkenal sebagai Tjipinang. Dahulu, tempat ini didirikan untuk menampung tahanan dari rutan Glodok karena populasinya yang telah memenuhi kapasitas. Lapas Cipinang dahulu cukup besar dan segar, karena dibangun di wilayah persawahan yang jauh dari pemukiman warga.
Di masa kolonial Belanda, rutan ini seperti neraka. Memaksa para tahanan bekerja dan memasang rantai. Banyak tahanan yang berusaha kabur karena hal ini. Melihat hal itu, sistem rantai dan kerja paksa terhapus pada 1918. Untuk sesaat, keadaan di rutan ini membaik.
Namun, hal serupa kembali terjadi pada saat Indonesia terjajah Jepang. Memperkerjakan para tahanan kembali secara paksa untuk membuat perlengkapan perlengkapan perang dan alat kedokteran. Menurut data Direktorat Jendral Permasyarakatan, kerja paksa yang tak setara dengan perlindungan tersebut menewaskan sekitar 25 tahanan setiap harinya pada tahun 1944.
Keadilan Terhadap Tahanan
Keadilan terhadap tahanan di rutan baru terasakan sepenuhnya setelah kemerdekaan Indonesia. Para tahanan kini mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri dengan berbagai kegiatan.
Hingga saat ini, Lapas Cipinang masih aktif berguna sebagai rutan. “Penjara ini masih banyak penghuninya, bahkan melebihi kapasitas yang ada,” ujar dr. Zeffry Alkatiri, seorang dosen FIB UI.
Namun, sayangnya, tempat ini telah kehilangan sebagian besar peninggalan Belanda. Hanya tersisa bangunan menara air yang terletak di dalam penjara. “Kebanyakan situs-situs seperti penjara di berbagai kota di Indonesia itu tidak memperhatikan, sehingga kemudian terbengkalai bahkan tergantikan gantikan dengan gedung baru.
Sejarah Penjara Cipinang
Desain website oleh Cahaya TechDev – Klub Cahaya

Dukungan & komentar!
Komentar