Makna Langgam Jawa Caping Gunung

Makna Langgam Jawa Caping Gunung Yang Sangat Mendalam

Jika anda menyukai langgam Jawa, anda pasti tidak asing dengan lagu berjudul “Caping Gunung”. Yang biasanya tersaji lewat lantunan para seniman musik khas Jawa dengan iringan gamelan.

Sekilas mendengar langgam ini liriknya biasa-biasa saja, namun ternyata mengandung makna yang begitu mendalam. Berisi banyak unsur semiotika yang terkemas dalam tata bahasa Jawa yang apik dan unik. Kode, perlambang, simbol, silib, siloka, sanepan, sindiran, sasmita dsb.

Berikut lirik dari  “Caping Gunung” :

Dek jaman berjuang

Njur kelingan anak lanang

Mbiyen tak openi

Neng saiki ono ngendi

Jarene wes menang

Keturutan sing digadang

Mbiyen ninggal janji

Neng saiki opo lali

Neng gunung tak cadhongi sego jagong

Yen mendhung tak silihi caping gunung

Sukur biso nyawang

Gunung ndeso dadi rejo

Dene ora ilang

Gone podo loro lopo

makna Lirik “Caping Gunung”

Lirik lagu ini di bait pertama, menyiratkan makna sebuah kerinduan dan keprihatinan dari orang tua atau Leluhur. Dan “Ibu Pertiwi” sebagai representasi energi pamomong negeri dan tanah air kita tercinta, terhadap para putra putri bangsa. Yang lahir dan tumbuh di pangkuan “Ibu Pertiwi”. Yang artinya lahir di tanah air Indonesia, tumbuh besar serta makan, minum dan bernafas dari oksigen di bumi Nuswantara. Namun telah lama “lalai” terhadap jati diri bangsanya sendiri.

Kemudian bait kedua, ada makna tersirat yang mengisahkan anak-anak bangsa Indonesia yang telah tumbuh menjadi manusia-manusia hebat. Serta dapat menggapai semua cita-cita dan meraih berbagai pencapaian. Sebagai  putra putri bangsa, mereka sejak lahir secara tidak langsung telah terikat janji bakti dengan bumi pertiwi di mana mereka hidup untuk menjadi generasi harapan bangsa. Namun setelah “dewasa” (menjadi generasi hebat) ‘Ibu Pertiwi” mempertanyakan bahwa mereka lupa diri dan lupa menepati “janji bakti” tersebut.

Janji bakti untuk menunaikan tugasnya “Mbangun Ndeso”. Yang artinya  turut serta “nyengkuyung” atau bergotong royong membangun sesuai peran dan kapasitas untuk tanah kelahiran dan negeri kita. Guna mengangkat, menjaga, dan melestarikan harkat, martabat dan jatidiri bangsa.  

Bait ke empat “neng gunung tak cadhongi sego jagung, Yen mendhung tak silihi caping gunung” juga mengandung makna sangat mendalam

Tanah Nuswantara yang terdiri dari banyak gunung-gunung menandakan sebagai negeri dengan peradaban tinggi nan agung. Gunung adalah tempat suci atau portal komunikasi khusus dengan dunia Keluhuran atau peradaban yang lebih tinggi di atas kita. Maka di dalam suluk pewayangan terdapat pakem tentang letak negeri Nuswantara yang hebat. Tertulis “Negeri kang panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, nglajengaken bandaran agung ngungkuraken wukir”. Yang artinya negeri yang luas berwibawa, yang terdiri atas daratan dan pegunungan, subur makmur, rapi tentram, damai dan sejahtera.

Wukir adalah bahasa Jawa kuno yang berarti gunung. Maknanya para putra putri bangsa Indonesia sebenarnya telah lahir dari sebuah negeri yang berperadaban tinggi. Yang tersirat dengan kata “neng gunung” tersebut.

Kemudian “tak cadhongi sego jagung”, bahwa nasi jagung itu adalah bentuk asupan nutrisi dan pemenuhan gizi bagi kita semua. Yang artinya tanah ibu pertiwi atau Nuswantara telah menyediakan segala bentuk “nutrisi” yang kita butuhkan. Berupa berbagai bentuk ilmu pengetahuan, media pendewasaan dan pembelajaran spiritual. Bagi generasi bangsa yang hidup di atasnya serta teguh menjaga harkat dan martabat negeri.

Selanjutnya kalimat “Yen mendhung tak silihi caping gunung”. Ini menyiratkan makna bahwa ketika para generasi bangsa dan putra wayah mengalami berbagai bentuk kesulitan dan kendala dalam kehidupannya. Maka para Leluhur segera “njampangi-njangkungi” atau memberikan berbagai bantuan. Agar mereka “Slamet Rahayu Nir Ing Sambikala” atau selamat dari segala marabahaya.

Makna Bait Terakhir

Dan di bait terakhir. Makna yang terungkap bahwa ada harapan yang besar dari ‘Ibu Pertiwi” dan para Leluhur terhadap para generasi bangsa. Bahwa kelak “Gunung ndeso dari rejo”. Yaitu negeri kita akan mencapai kejayaan dan masa keemasan. Serta hilang sirnalah segala bentuk “loro lopo” atau segala macam kesulitan dan kesengsaraan hidup seluruh generasi di bumi Nuswantara.

Sebenarnya jika kita “Titen” atau jeli teliti banyak lagu dan langgam yang terciptakan oleh seniman kita. Yang menyiratkan berbagai makna mendalam. Dan hampir kesemuanya memiliki benang merah yang sama. Yaitu sebuah kerinduan dan harapan besar dari para pendahulu bangsa kita terhadap anak cucu generasi bangsa. Yang saat ini banyak lalai dan melupakan jati dirinya sebagai bangsa Nuswantara yang agung. Agar kembali sadar serta bergegas untuk kembali kepada jati diri yang sebenarnya. Kemudian membangun negeri kita sehingga bisa meraih kejayaan kembali seperti yang pernah terjadi pada masa silam.

Sedangkan untuk fenomena alam gunung-gunung bercaping yang sering terlihat di berbagai daerah, baik di Indonesia maupun di luar negeri, pastilah menyiratkan berbagai kode alam dan pertanda. Kode untuk memberikan “informasi” bahwa alam sedang atau akan “punya gawe”, menyelenggarakan event besar terkait siklus atau sistem kerja alam itu sendiri.

Kita sebagai manusia seharusnya tanggap dan paham, bahwa alam sering mengajak kita “berkomunikasi” dan “memberitahu” bagaimana mereka bekerja, sehingga kita dapat terus eling lan waspada, agar selamat dari segala bentuk efek dari geliat kerja alam itu. Salah satunya lewat fenomena “caping gunung”.

kita bisa cermati sesuai makna lirik lagu tersebut, khususnya “yen mendhung tak silihi caping gunung”.

Makna Langgam Jawa Caping Gunung

Desain website oleh Cahaya TechDev – Klub Cahaya

About the author : Nunik Cho
I'm nothing, but everything
Nunik Cho avatar

Nunik Cho

I'm nothing, but everything

Mungkin Anda Menyukai

Dukungan & komentar!

Biar Karya Bicara
Ambil bagian, mainkan peran hidupmu!

Komentar

No comments yet