BOS CANDU
Aku menghentikan motorku karena ada sesuatu yang menempel di roda belakang. Ternyata benda itu adalah selembar plastik yang ada lakbannya. Aku ingat, aku memang melindasnya beberapa ratus meter di belakangku.
Bapakku yang tidak turun dari jok belakang bertanya, “Apa itu?”.
“Ga pa-pa. Cuma plastik.” Jawabku sambil bersiap menyalakan motorku kembali.
Sekonyong-konyong, seorang laki-laki dekil datang mendekat dan langsung bertanya, “Mau cari apa, Bang? Yang hijau, putih, merah, biru… aku punya semuanya.”
Keningku berkerut. Apa maksud laki-laki ini? Sempat kebingungan untuk sedetik, aku langsung sadar kami sedang berada di area mana. “Ga, bang. Kami cuma lewat.” Kataku sambil pergi.
Narkoba sudah ada sejak lama. Dulu biasanya orang menyebutnya : morgana. Tapi kondisinya tidak merajalela seperti sekarang. Peredarannya juga tidak semasif sekarang.
Dulu, jangankan ibu rumah tangga. Seorang anak sekolah paling bandel di sekolahnya pun, belum tentu pernah mencicipinya narkoba jenis apapun. Selain mahal, barangnya pun belum tentu ada. Lagi pula, pengedarnya pun sangat selektif dalam memilih klien. Kalau ga kenal, mereka tidak mau jual.
Sekarang, pasokannya nyaris tanpa batas, dan harganya relatif murah. Di area-area tertentu di banyak kota, para pengedarnya pun seolah ga peduli tentang siapa yang jadi kliennya.
Seperti kejadian siang itu, orang itu bahkan tidak peduli apakah aku dan bapakku adalah dua orang polisi yang sedang menyamar. Tanpa basa-basi dia langsung menawarkan dagangannya. Padahal kami hanya berhenti 2 menit…!
Jenis dan variannya pun semakin banyak, seiring dengan segmen pembelinya pun jadi semakin beragam. Mulai dari anak SMP, buruh pabrik, manajer perusahaan, PNS hingga aparat hukum. Semua orang jadi pemakai narkoba.
Semua ini menghasilkan sirkulasi uang yang sangat besar. Dengan demikian, muncullah bos-bos baru dalam dunia malam. Bos-bos yang lama makin tenggelam.
Bos Mafia Dulu Vs Sekarang
Dulu, yang namanya bos mafia atau bos preman itu cuma identik dengan kekerasan. Dia pernah mbacok si anu, pernah ngerampok sekian banyak, pernah nyulik si abu. Setelah melakukan semua aksi kekerasan itu, ia kemudian duduk sebagai orang yang ditakuti. Semakin sering atau semakin sadis, semakin besar pula kekuasaan yang ia dapatkan.
Meskipun begitu, sehebat-hebatnya seorang bos preman, dia tetap takut sama polisi, terutama jika yang kita bicarakan adalah polisi sebagai sebuah institusi. Mungkin saja dia berani menempeleng seorang polisi berpangkat rendah. Tapi, dia bahkan tidak akan terpikir untuk memulai pertengkaran dengan seorang Kapolsek.
Sebut saja seorang bos preman di Kota Medan. Untuk beberapa saat, ia dielu-elukan sebagai bos preman nomor wahid. Sebab, konon, ia bisa membuat seorang Kapolda dimutasi. Namun pada akhirnya, ia dan seluruh kekuasaannya berhasil dilucuti oleh polisi.
Sekarang, kekerasan tidak lagi menjadi faktor utama, melainkan uang. Mungkin bos-bos yang baru bahkan tidak pernah sekedar menempeleng seseorang seumur hidupnya. Tapi dia punya banyak uang. Dengan uang, dia bahkan bisa menyuruh seorang polisi untuk menempeleng orang.
Aparat Dalam Genggaman
Hal yang paling menakutkan adalah kenyataan bahwa mereka bahkan tidak takut pada polisi. Kenapa mereka harus takut? Sebab sebagian dari kepolisian sudah mereka genggam. Jangankan polisi, sekarang mereka bahkan punya pengacara, jaksa dan sekaligus hakimnya. Sekalipun mereka sedang apes dan masuk penjara, kepala sipir juga sudah mereka miliki.
Dulu, orang kere seperti aku tidak perlu takut sama preman. Mereka tidak akan memukuli seseorang hanya untuk bersenang-senang, alau bukan untuk sesuatu yang bisa dijadikan uang. Kenapa harus melakukan kejahatan? Mereka cuma preman, bukan psikopat.
Dulu, seorang bos preman tidak pernah ingin orang lain ikut-ikutan menjadi preman. Atau tukang copet. Atau perampok atau penodong. Sebab kalau semua orang jadi pelaku, maka tidak ada lagi yang bisa menjadi korban. Bisa-bisa mereka tidak kebagian.
Sekarang, anak yang alim berubah jadi pencuri. Pengemis berubah jadi penodong. Pedagang jadi pencopet. Ibu-ibu jadi penipu. PNS jadi koruptor. Polisi jadi pemeras.
Semua orang jadi pelaku. Dan para bos candu tidak peduli soal itu semua. Asalkan narkoba mereka bisa terjual.
BOS CANDU
By GodlyRaja
Desain website oleh Cahaya TechDev – Klub Cahaya

Dukungan & komentar!
Komentar