El Nino Prediksi Puncak Kemarau

BMKG: El Nino Diprediksi Mulai Juni, Puncak Kemarau Juli-September

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan prediksi tentang potensi terjadinya El Nino sejak Februari lalu. Sesuai hasil prediksi, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia perlu lebih mewaspadai potensi terjadinya El Nino yang makin pasti.

“Selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan yang terjadi, juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” kata Dwikorita.

Adanya pemanasan SML ini mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik tengah sehingga akan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. 

“Langkah-langkah strategis perlu pemerintah lakukan untuk mengantisipasi dampak lanjutan. Utamanya sektor-sektor yang sangat terdampak, seperti sektor pertanian, terutama tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Mengantisipasi situasi saat ini perlu agar tidak berdampak pada gagal panen yang dapat berujung pada krisis pangan,” kata Dwikorita.

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan BMKG terhadap suhu muka laut di Samudra Pasifik, La Nina telah berakhir pada Februari 2023. Periode Maret-April 2023, ENSO berada pada fase netral, yang mengindikasikan tidak adanya gangguan iklim dari Samudra Pasifik pada periode tersebut. 

Beralih Menuju Fase El Nino pada periode Juni 2023

Dengan peluang 80 persen, ENSO Netral  mulai beralih menuju fase El Nino pada periode Juni 2023 dan diprediksi akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat. Gangguan iklim dari Samudra Hindia, yaitu IOD (Indian Ocean Dipole), selama bulan Maret-April beralih kefase IOD Positif mulai Juni 2023.  

Bahkan Perkiraan sebagian wilayah akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal atau lebih kering dari kondisi normalnya hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali (0 mm/bulan). 

Melakukan langkah tersebut untuk mengurangi risiko kekurangan air baik bagi kebutuhan masyarakat maupun untuk kebutuhan pertanian.

“Upaya pencegahan harus lebih menekan daripada pemadaman karena langkah ini lebih efektif untuk menghindari dampak yang luas. masyarakat perlu terus meningkatkan dalam memahami pengelolaan hutan dan lahan, potensi ekonomi lokal dan pengolahan hasil produksi hutan dan lahan menjadi bernilai tambah,” katanya. 

BMKG sendiri terus melakukan pemantauan untuk mendeteksi titik panas atau hot spot menggunakan satelit. Jika BMKG mendeteksi potensi karhutla maka secara resmi BMKG akan mengeluarkan peringatan dini.

Masih Ada Hujan

Plt Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab mengatakan hasil BMKG terhadap 699 Zona Musim (ZOM) hingga akhir Mei 2023, menunjukkan sebanyak 28 persen (194 ZOM) di wilayah Indonesia sudah masuk periode musim kemarau, sedangkan 56 persen wilayah lainnya (392 ZOM) masih mengalami musim hujan. 

Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau meliputi wilayah Aceh bagian timur, Sumatra Utara bagian timur, Riau bagian timur, Bengkulu bagian barat, Lampung bagian selatan, Banten bagian utara, DKI Jakarta, Jawa Barat bagian utara, sebagian Jawa Tengah, DIY bagian selatan, sebagian wilayah Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian NTT, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Kepulauan Maluku, dan sebagian Maluku Utara. 

Sementara itu, sejumlah 16 persen (113 ZOM) wilayah yang mengalami kondisi basah atau kondisi kering sepanjang tahun (bertipe satu musim). 

“Puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan bulan Juli, Agustus, dan September 2023, yaitu sebanyak 582 ZOM (83 persen). Puncak Musim Kemarau 2023 SAMA pada 390 ZOM (55,8 persen), MAJU pada 174 ZOM (24,9 persen), dan MUNDUR sebanyak pada 135 ZOM (19,3 persen),” terangnya. 

Di perkirakan Mencapai Kondisi Kering

Fachri juga menyampaikan bahwa prediksi hujan bulanan periode Juni-Oktober 2023 dapat mencapai kondisi bawah normal atau lebih kering dari rata-ratanya. 

mengalami hujan Juni 2023 Aceh, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, Kalimantan, Sulawesi, Sulawesi Utara, Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat dan Papua. Mengalami curah hujan yang sangat rendah yaitu kurang dari 20 mm/bulan meliputi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT.

Artikel ini pernah muat di: Tempo

El Nino Prediksi Puncak Kemarau

Desain website oleh Cahaya TechDev – Klub Cahaya

Ryanwinters369

Life Is Like A Wind

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan