Rajah : Mantra Sunda Kuno, Sundanese Shamanic Blessing

Oleh : Sangha Sundana

SAMPURASUN.
SAMPRAZAN.

Rajah adalah salah satu budaya nenek moyang Sunda yang masih tersisa pada masa modern ini. Namun semakin langka dan semakin tidak terkenal oleh masyarakat modern, termasuk oleh masyarakat keturunan Sunda sendiri. Rajah mungkin lebih terkenal di masyarakat sebagai sebuah bentuk kesenian, seperti; tembang membawakan dengan iringan kecapi.

Rajah sebenarnya bukan sekedar tembang atau lagu. Namun yang maksudnya sebagai rajah adalah salah satu jenis mantra, maka ia tidak dapat kita sebut sebagai sekadar kesenian. Rajah sendiri mengandung makna yang sangat mendalam dan memiliki fungsi untuk mempengaruhi pikiran dan tingkat kesadaran pikiran.

Budaya Sunda sampai pada jaman Kerajaan Pajajaran memiliki berbagai jenis mantra, dan salah satunya adalah rajah : mantra Sunda kuno.

Jenis lain mantra yang terkenal dalam Budaya Sunda adalah :

1. Jangjawokan, mantra untuk memulai aktifitas tertentu.
2. Asihan, mantra untuk memunculkan perasaan cinta dari dalam pribadi juga orang lain.
3. Ajian, mantra untuk memunculkan kekuatan dari dalam pribadi.
4. Singlar (mantra untuk mengusir penyakit, roh halus, dan hal yang tidak kita harapkan.
5. Jampe, mantra untuk penyembuhan penyakit.

Rajah : Mantra Sunda Kuno

Setiap mantra ini memiliki tujuan yang berbeda satu sama lain, maka ilmu-ilmu ini adalah pengetahuan yang memberikannya tidak kepada sembarang orang. Namun berdasarkan tingkat kematangan mental dari setiap individu, karena ini bisa berguna untuk kepentingan positif atau negatif, tergantung dari kesiapan mental dari pelakunya sendiri.

Rajah adalah salah satu jenis dari mantra yang paling umum dalam Budaya Sunda. Rajah memiliki tujuan untuk “perlindungan pribadi dari hal-hal yang tidak kita inginkan”. Maka mantra ini selalu menjadi mantra utama dalam berbagai kegiatan sehari-hari yang melibatkan kepentingan dari sebuah peradaban/suku. Misalnya, dalam kepentingan untuk mengalihfungsikan sebagian dari hutan larangan untuk menjadikan pemukiman, karena kebutuhan pemukiman dengan bertambahnya penduduk dalam sebuah peradaban menjadi kebutuhan yang meningkat. Rajah adalah sebagai ritual untuk memohon ijin pembukaan hutan dan alih fungsi hutan tersebut menjadi lahan pemukiman.

Ini juga berlaku untuk alih fungsi sebagai lahan pertanian / ladang, juga untuk mencegah bencana, dan menolak mala petaka bagi masyarakat dalam peradaban tersebut.

Masyarakat Sunda kuno selalu memegang sebuah prinsip, bahwa kehidupan kita sebagai manusia selalu bergantung kepada alam semesta, dan begitu sebaliknya. Maka tidak ada satu pun yang dapat berdiri sendiri sebagai makhluk hidup di alam semesta. Kita semua saling bergantung. Karena ketergantungan ini, maka segala aktifitas yang kita lakukan dalam hidup, baik hal besar atau kecil, kita akan mempengaruhi kehidupan-kehidupan lainnya, dari makhluk lain baik yang terlihat atau tidak. Untuk itu, kita perlu menyadari ketergantungan ini, maka segala yang kita lakukan harus berlaku dengan keputusan yang sangat bijaksana, karena segala yang kita lakukan ini menjadi sebuah tanggung jawab yang besar bagi pribadi kita sendiri, dengan adanya pengaruh terhadap kehidupan-kehidupan lain di alam semesta ini.

Jika contohnya dalam kepentingan untuk mengalihfungsikan hutan sebagai lahan pemukiman baru, maka yang harus menjadi pertimbangan kita dalam melakukan itu adalah, bahwa hutan adalah sebuah tempat yang sakral. Di dalam hutan hidup berbagai makhluk berbeda; tanaman, hewan, makhluk-makhluk yang berada di dalam tanah, mikroorganisme, dan semua yang tidak terlihat secara fisik oleh mata kita.

Begitu juga hutan adalah tempat hidup dari entitas-entitas yang lebih tinggi dari manusia yang tidak selalu dapat kita lihat.

Maka kita harus memandang hutan bukan hanya sebagai sebuah lokasi untuk tempat hidup dari berbagai makhluk berupa tanaman dan hewan yang terlihat dengan mata kita. Namun ada alam-alam yang tidak terhingga jumlahnya dalam kehidupan hutan itu sendiri. Maka hutan harus kita lihat sebagai sebuah sistem yang kompleks. Bukan dari segala yang terlihat saja, tetapi juga segala yang tidak terlihat secara kasat mata.

Rajah : Mantra Sunda Kuno

Dengan adanya kepentingan kita untuk menebang sejumlah pohon dari hutan tersebut, maka kita telah mempengaruhi kehidupan mereka semua. Artinya kita menghilangkan kehidupan, misalnya dari berbagai tanaman yang lahannya kita gunakan untuk kepentingan tempat tinggal kita. Dan tiap tanaman adalah alam semesta bagi berbagai kehidupan berbeda, sama seperti pribadi kita sendiri, kita adalah alam semesta.

Maka bayangkan pengaruh yang kita buat karena adanya kehendak dari pribadi kita untuk membangun sebuah pemukiman demi kepentingan peradaban kita. Ini bukan hal yang sekecil kelihatannya.

Dan untuk langkah besar ini, kita perlu memohon perlindungan, meminta ampun kepada alam semesta untuk telah mempengaruhi berbagai kehidupan berbeda atas kepentingan kita. Rajah, adalah sebuah mantra yang menyanyikannya dengan bentuk iringan kecapi, dengan ritual sebagai permohonan ijin kepada alam semesta. Jika semesta merestui ini semua, maka langkah kita akan terlaksana dengan baik. Kita akan terlindung dari efek segala yang mungkin timbul karena adanya alih fungsi tersebut.

Prinsip ini adalah untuk membentuk sebuah mentalitas dari peradaban agar semua individu dalam peradaban menghormati alam semesta di berbagai tempat mereka berada. Dengan menyadari bahwa segala tindakan yang kita lakukan mempengaruhi semua kehidupan lain di alam semesta ini, maka kita akan membentuk mentalitas tanggung jawab pada semua pikiran dan tindakan yang akan kita lakukan dalam kehidupan kita. Tidak ada satu tindakan pun yang tidak mempengaruhi kehidupan lain dan makhluk lain. Dan maka dengan mentalitas ini, kita mampu menghormati semua kehidupan itu serta menghormati kehidupan kita sendiri.

Rajah adalah bahasa makna, terungkapkan selalu dengan bahasa yang puitis, penuh dengan analogi, mengandung pujian dan ungkapan syukur, serta permohonan restu dari alam semesta. Bahasa ini terungkapkan sebagai sebuah ekspresi yang menunjukkan kesetaraan terhadap tiap makhluk berbeda di alam semesta ini.

Rajah : Mantra Sunda Kuno

Dalam membawakan rajah, biasanya iringan kecapi menjadi latar belakang dari ritual. Suara kecapi akan membentuk sebuah suasana yang sakral, sehingga penjiwaan terhadap mantra akan menjadi lebih mudah berlaku. Iringan kecapi juga membentuk suasana hati dan pikiran bagi seluruh peserta ritual untuk terbawa ke dalam emosi, membangkitkan ketulusan mereka untuk permohonan ini.

Rajah juga dapat berguna sebagai ungkapan syukur kepada alam semesta, dalam berbagai ritual. Masyarakat Sunda kuno menggunakan rajah untuk mengucapkan syukur kepada berbagai elemen alam berbeda.

Ritual yang saat ini masih sering berlangsung di sejumlah wilayah adalah seperti “Ngarajah Gunung” (melakukan rajah di gunung).

Masyarakat Sukabumi contohnya, tiap tahun beberapa kelompok adat melakukan rajah di Gunung Salak. Acara ini rutin mengadakan walaupun saat ini pelestari ajaran ini semakin sedikit. Gunung adalah tempat yang sakral, yaitu entitas-entitas tertinggi bumi berada. Dan masyarakat kita di jaman modern ini kurang memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian alam di sekitar mereka, termasuk gunung sebagai tempat yang sering berguna sebagai tempat wisata. Kemurnian gunung semakin tidak terjaga, maka masyarakat yang peduli terhadap keseimbangan alam dan kelestarian budaya mereka masih rutin mengadakan rajah gunung. Ritual ini bermaksud untuk tetap mempertahankan kemurnian gunung sebagai tempat yang sakral. Kita mau tidak mau bergantung kepada keberadaannya, maka kita harus melakukan perawatan kepada tiap elemen alam yang ada di sekitar kita.

Rajah : Mantra Sunda Kuno
Candi Sumber Awan Malang Singhosari

Pada prinsipnya rajah dapat berlaku di banyak tempat, baik di gunung, laut, sungai, rumah, semua tempat kita berpijak adalah sakral. Di tempat itu semua kehidupan di alam semesta berada.

Dalam istilah spiritual modern, hal seperti rajah ini dapat kita sebut sebagai “shamanic blessing”. Tiap peradaban di dunia memiliki ritual seperti ini. Pada jaman modern ritual ini berkembang kembali sebagai pengetahuan baru yang mampu mengembalikan kesadaran manusia untuk kembali terikat dan terkoneksi kepada alam sekitarnya.

Dengan koneksi terhadap alam, maka kita akan memiliki tanggung jawab dan kepedulian terhadap alam semesta. Maka semua tindakan kita akan selalu berdasarkan kepada sifat utama kita, cinta kasih sejati, kepada semua makhluk dan alam semesta. Dengan cara ini kita melestarikan bumi sebagai alam semesta tempat kita hidup. Rajah harus lestari sebagai bagian dari Shamanic Blessing yang merupakan warisan dari nenek moyang. Bukan hanya peradaban Sunda, tetapi dunia secara keseluruhan.

Maka rajah : mantra Sunda kuno ini tidak dapat berarti hanya sebagai kesenian, tetapi rajah adalah sebuah ekspresi dari jiwa yang terdalam untuk mengungkapkan perasaan bersyukur, permohonan ijin atau restu dari alam semesta, atas semua langkah yang akan kita lakukan, atau yang sudah kita lakukan.

RAHAYU SALALAWASNA.
@sadamantra
@inti energi
@mipit amit
@koneksi
@selalu terhubung

Rajah : Mantra Sunda Kuno

Desain website oleh Cahaya TechDevKlub Cahaya

About the author : Ciung Wanara
Tell us something about yourself.

Mungkin Anda Menyukai

Dukungan & komentar!

Biar Karya Bicara
Ambil bagian, mainkan peran hidupmu!

Komentar

No comments yet

Download / Install Aplikasi Klub Cahaya

Hai, sahabat Cahaya! Ini cara download dan install aplikasi Klub Cahaya ke HP kamu. Mudah, cepat dan tidak butuh banyak memori.

Klik "Add Klub Cahaya to Home screen".

Refresh layar jika tidak muncul.

Klik "Add". Selesai.

Tunggu beberapa saat.

Klub Cahaya terinstall; icon muncul di layar HP.

Happy time bersama Klub Cahaya!!!